Senin, 26 November 2012

teknik karate


Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).

[sunting]Kihon

Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihondengan baik.

[sunting]Kata

Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. SetiapKata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda.
Dalam Kata ada yang dinamakan BunkaiBunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda.

[sunting]Kumite

Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang titik vital.

ASAL MULA DAN MAKNA WARNA SABUK KARATE


ASAL MULA DAN MAKNA WARNA SABUK KARATE

clip_image002Permulaan system warna sabuk dalam seni beladiri diprakarsai oleh Dr. Jigoro Kano, Beliau adalah pendiri Judo Modern. Dr. Jigoro kano merancang system perwarnaan Sabuk ini ditujukan untuk melihat kemajuan siswa dalam belajar beladiri. 

Gichin Funokashi, berasal dari Okinawa dan merupakan Pendiri dari Karate Shotokan, dan sering dikatakan sebagai pendiri karate Modern. Beliau mengadopsi sistem persabukan karate dan kosep philosopisnya dari Dr. Jigoro Kano. 


Byung Jick Ro, adalah seorang Korea pendiri dari Song Moo Kwan dan dikenal sebagai Pendiri Tae Kwon Do Modern. Merupakan murid dari Gichin Funokashi. Dia menerima sabuk hitam dari Funakoshi pada tahun 1939. Dan Dia juga mengadopsi system warna sabuk Tae Kwon Do sejak tahun 1940. 

Menghapus Legenda
Ada suatu legenda umum mengenaio tradisi sabuk, seorang praktisi beladiri berawal dengan sabuk putih, setiap saat berlatih sehingga menyebabkan sabuknya ternoda oleh keringat, kotoran, dan darah. Namun cerita itu tidak ada bukti yang konkrit seperti itu. Itu semua hanya sebuah mitos. Bahkan seorang yang akan berlatih di Dojo Karate atau di tempat Latihan Judo, tidak akan diijinkan untuk berlatih sehubungan standar tatatertib dari sebuah pereguruan. Dalam beberapa perguruan seni beladiri ada anggapan bahwa sabuk tidak boleh dicuci, karena dengan pencucian sabuk akan “membasuh keterampilan dan pengetahuan” atau “,mencuci Ki seseorang” Hal ini tidak benar dan hanya sebuah mitos saja. 

Tingkat Kemajuan
Kesalahan umum yang harus di kalrifikasi adalah Sterotip tentang sabuk sabuk hitam adalah seorang master. Dlam kenyataanya seorang sabuk hitam mempunyai kemampuan tehnik dasar. Karena dalam beladiri Moo Song Kwan Sabuk Hitam berlangsung dalam 2 – 4 tahun latihan. Untuk mencapai tingkat Dan 1 setara dengan Sarjana perguruan Tinggi. Tingkat Dan 1 merupakan permulaan untuk ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam Moo Song Kwan dan 5 adalah seorang Guru setara dengan Gelar master di Perguruan tinggi sedangkan dan 8 sabuk hitam adalah grandmaster setara dengan gelar Doktor di universitas. 

Makna Warna
Awalnya, sabuk putih dicelup secara sederha menjadi warna baru. Proses pengulangan perwarnaan tersebut menentukan warna sabuk dan dan urutan warna. Sistem warna sabuk standar diantarnya putih, kuning, emas, oranye, hijau, birum ungu, coklat, mrah dan hitam. Karena proses pewarnaan setiap kali berlatih menyebabkan warna menjadi lebih gelap. 

clip_image004Sabuk Putih, Warna Putih menandakan awal kelahiran, dari sebuah benih. Seorang Siswa dengan sabuk putih, merupakan seorang pemula untuk mencari pengetahuan tentang seni. Sabuk putih merupakan awal dari siklus kehidupan, dan merupakan representative dan benih yang berada di bawah salju musim dingin. 


clip_image006Sabuk Kuning. Warna Kuning menandakan Sinar matahari yang untuk pertama kali memberikan kekuatan baru atau awal kehidupan baru pada sebuah benih. Seorang praktisi beladiri dengan sabuk kuning akan diberikan untuk pertama kalinya cahaya pengetahuan, yang akan membuka pikiran dan hatinya dari seorang pelatih.


clip_image008Sabuk Oranye. Oranye memaknakan tentang tumbuhnya kekuatan matahari yang menghangatkan bumi sebagai persiapan untuk sebuah kehidupan baru di musim semi. Sabuk Oranye sedang mulai merasakan terbukanya perkembangan tubuh dan pikiran.

clip_image010Sabuk Hijau, Hijau mempunyai arti tumbuhnya suatu benih seperti kecambah dari tanah menuju cahaya matahari, dan mulai tumbuh menjadi sebuh tanaman. Seorang Karateka sabuk hijau sedang belajar untuk memperkuat dan menyempurnakan think dasarnya.

clip_image012Sabuk Biru, Biru mempuyai makna sebagai Langit yang biru. Tanaman akan terus tumbuh ke atas. Seorang Karateka dengan sabuk biru dimaknai seperti tanaman yang tumbuh terus mencapai ke tingkat yang paling tinggi . Cahaya matahari memberikan tanaman untuk terus tumbuh. Seorang Karateka akan terus di beri pengetahuan tambahan tentang pengetahuan dan seni sehingga jiwa dan raganya akan terus berkmbang lebih baik.

clip_image014Sabuk Ungu, Warna Ungu mempresentasikan langit perubahan langit menuju fajar (permulaan). Sebagai seorang siswa dalam mempersiapkan transisi perubahan kepada siswa silanjutnya. Sabuk Ungu mulai untuk memahami arti dari sabuk hitam.

clip_image016Sabuk Coklat, menandakan sebuah benih yang sudah matang. Seorang dengan sabuk coklat merupakan siswa lanjutan yang memahami think – tehnik dam memulai dewasa. Dan mulai memahami buah dari kerja kerasnya sebagai pemula.


clip_image018Sabuk Merah Merah menandakan panas merah-panas Matahari sebagai tanaman terus tumbuh ke arah itu. Sebagai mahasiswa sabuk merah memperoleh pengetahuan yang lebih rinci, seperti tanaman tumbuh perlahan-lahan ke arah Matahari, sehingga mahasiswa sabuk merah belajar untuk lebih berhati-hati dengan pengetahuan dan kemampuan fisik. Merah adalah tanda bahaya, dan sabuk merah mulai menjadi berbahaya dengan pengetahuan dan kemampuan mereka.


clip_image020Sabuk Hitam¸ Hitam dimnaknai sebgai kegelapan di luar matahari, Seorang dengan sabuk hitam mencari hal-hal baru, pengetahuan yang lebih dalam tentanfg seni, Dia mulai memberikan pengjaran tehada[p orang lain. Dia menanamkan benih baru dan menolongnya untuk tumbuh lebih dewasa. Muridnya yang akan memberikan akar kedalam seninya, tumbuh, berkembang dalam proses yang tiada akhir.

Asal Usul Karate


Sejarah karate berasal dari seni beladiri tinju Cina diciptakan oleh Darma, guru Budha yang Agung, manakala tengah bermeditasi di Biara Shorinji, Mt-Sung, Provinsi Henan, Cina Generasi Darma selanjutnya menyebut bela diri ini dengan nama Shorinji Kempo yang berakar di Okinawa melalui kontaknya dengan Cina pada medio abad ke-14. Lahirnya karate sebagai seni bela diri diketahui pada abad ke – 19 adalah Matsumara Shukon seorang prajurit samurai. Menurut sejarah sebelum menjadi bagian dari jepang, Okinawa adalah suatu wilayah berbentuk kerajaan yang bebeas merdeka. Pada waktu itu Okinawa mengadakan hubungan dagang dengan pulau – pulau tetangga. Salah satu pulau tetangga yang menjalin hubungan kuat adalah Cina. Hasilnya Okinawa mendapatkan pengaruh yang kuat akan budaya Cina. Sebagai pengaruh pertukaran budaa itu banyak orang-orang Cina dengan latar belakang yang berbeda-beda datang ke Okinawa mengajarkan bela dirinya pada orang-orang setempat. Sebaliknya orang-orang Okinawa juga banyak yang Hijrah ke Cina sekembalinya ke Okinawa mengajarkan ilmu yang sudah didapatkan di Cina. Pada tahun 1477 Raja Soshin Nagamine di Okinawa memberlakukan larangan pemilikan senjata bagi golongan pendekata. Tahun 1608 kelompok Samurai Satsuma di pimpin oleh Shimazu Lehisa masuk ke Okinawa dan tetap meneruskan larangan ini. Bahkan pengadilan Bakhucon juga menghukum bagi orang yang melanggar larangan sebagai tindak lanjut atas peraturan ini orang-orang Okinawa berlatih Okinawa te (begitu mereka menyebutnya) dan Ryukyu Kobudo (Seni senjata) secara sembunyi-sembunyi mereka berlatih. Tiga aliranpun muncul masing-masing memiliki ciri khas yang namanya sesuai dengan daerah asalnya, yaitu : Tomori, Shuri, dan Naha. Namun demikian pada akhirnya Okinawae mulai diajarkan ke sekolah-sekolah tidak lama setelah itu Okinawa menjadi bagian dari Jepang, membuka jalan bagi karate masuk ke Jepang. Gichin Funakoshi sebagai instruktur pertama ditunjuk mengadakan demonstrasi karate di luar Okinawa bagi orang-orang Jepang. Gitchin Funakoshi sebagai Bapak Karate dunia dilahirkan di Shuri, Okinawa, pada tahun 1868. Funakoshis belajar karate pada Azato dan Itosu. Setelah berlatih begitu lama, untuk pada tahun 1916 Gitchin Funakoshi di undang ke Jepang unuk mengadakan demonstrasi di Butokukai yang merupakan pusat dari seluruh bela diri Jepang saat itu. Selanjutnya pada tahun 1921, Putra Mahkota yang kelak akan menjadi kaisra Jepang datang ke Okinawa dan meminta Funakoshi untuk demonstrasi karate. Bagi Gitchin Funakoshi undangan ini sangat besar artinya karena demonstrasi itu dilakukan di arena istana Shuri. Setelah demonstrasinya yang kedua di Jepang, Gitchin Funakoshi seterusnya tinggal di Jepang selama di Jepang pula Gitchin Funakoshi banyak menulis buku-bukunya yang terkenal hingga sekarang seperti “Ryukyu Kempo : Karate” dan “Karate do Kyoan”. Sejah saat itu klub-klub karate terus bermunculan baik di sekolah dan Universitas. Gichin funakoshi selain ahli karate juga pandai dalam sastra dan kaligrafi. Nama Shotokan diperolehnya sejak kegemarannya mndaki gunung Torao (yang dalam kenyataannya berarti ekor harimai). Diana dari sana terdapat banyak pohon cemara ditiup angin yang bergerak seolah gelombang yang memecah dipantai. Terinspirasi oleh hal itu Gichin funakoshi menulis sebuah nama “Shoto” sebuah nama yang berarti kumpulan cemara yang bergerak seolah gelombang, dan “Kan” yang berarti ruang atau balai utama tempat murid-muridnya berlatih. Simbol harimau yang digunakan karate shotokan yang dilukis oleh Hoan Kosugi (Salah satu murid pertama Gichin Funakoshi), mengarah kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa “Harimau tidak pernah tidur”. Digunakan dalam karate Shotokan karena bermakna kewaspadaan dari harimau yang sedang terjaga dan juga ketenangan diri pikiran yang damai yang dirasakan Gichin Funakoshi ketika sedang mendengarkan suara gelombang pohon cemara dari atas Gunung Torato. Sekalipun Gichin Funakoshi tidak pernah memberi nama pada aliran karatenya, murid-muridnya mengambil nama itu untuk dojo yang didirikannya di Tokyo sekitar tahun 1936 sebagai penghormatan pada sang guru. Shotokan adalah karate yang mempunyai ciri khas beragam teknik pukulan, tendangan dan lompatan, gerakan yang ringan dan cepat. Gichin Funakoshi percaya bahwa akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk berlatih menguasai untuk penekanan fisik dan bela diri. Gichin Funakoshi mempertegas keyakinannya bahwa karate adalah sebuah seni. Selanjutnya Gicin Funakoshi menjelaskan makna kata “kara” pada karate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun demikian sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta lawan tengah menggu.






SEJARAH KARATE

  1. Gichin Funakoshi dilahirkan pada tahun 1868 di Suri bagian dari Okinawa
  2. Gichin Funakoshi dinobatkan sebagai Bapak Karate Dunia pada tahun 1931
  3. Gichin Funakoshi menulis bukunya yang pertama berjudul Karatedo Kyohan dalam huruf kanji pada tahun 1936
  4. Masatoshi Nakayama membentuk Japan Karate Asosiation (JKA) pada tahun 1955
  5. Pertandingan karate pertama dilaksanakan pada tahun 1957, di Tokyo
  6. Exibition Olympiade Karate pada tahun 1968, di Mexico
  7. Kejuaran Dunia Karate Pertama pada tahun 1970, di Tokyo
  8. World Union Karate Organisation (WUKO) di akui oleh Internasional Organisation Comite ( I O C ) pada tahun 1986.
  9. Pada tahun 1993 World Union Karate Organisation ( WUKO ) di bekukan oleh I O C Ex (WUKO) berubah menjadi World Karate Federation (WKF) sampai saat ini.
  10. Gichin Funakoshi wafat pada tanggal 26 April 1957.